Uang, Ukurlah Diriku Gapailah Asaku
Uang, Ukurlah Diriku Gapailah Asaku
|
Kan
ku bangun sekolah saat dewasa nanti
Biar
semua orang bisa sekolah dan beruntung
Ooh
tidak, tidaaak... Aku harus punya rumah dulu sebelumnya
Hmmm,
apa sebaiknya aku punya kekasih dulu?
Heii..
sepertinya keren jika dewasa nanti aku punya kekasih dan pekerjaan yang membuat
orang lain cemburu..
Yaaa..
yaaaaa
Bisikku sembari manggut-manggut
menatap jendela yang ditemui gerimis hujan. Lalu helaan napas panjang
mengikuti, rasanya menyenangkan jika memang itu yang terjadi. Tapi rasanya
berat ketika membayangkan berapa banyak jalan berduri yang harus di lalui. Saat
ini dibenakku terlintas jika punya uang aku bisa lakukan segalanya. Tahapan
yang harus dilalui adalah sekolah dengan benar dan rajin, lalu memasuki dunia
kerja, punya kekasih, menikah dan menikmati kekayaan. Semakin dewasanya waktu,
tahapan sederhana itu terlihat menggelikan. Entah sampai di tahap mana aku bisa
menyelipkan sesuatu yang tanpa kontroversi uang yang menggoyahkan hidupku.
Pekerjaan dengan gaji mapan, kekasih
mapan dan impian tercapai adalah keinginan setiap orang. Sedikit terhenyuk,
suatu ketika seorang paruh baya berumur tiga puluh tahunan, berprofesi sebagai
seorang supir bercerita tentang cintanya. Ia di tolak oleh sang gadis yang
sudah lima tahun menjalin hubungan dengannya, tentu suka dukanya mereka lalui
bersama. Bukan karena sudah tak cinta lagi katanya, melainkan cinta terhambat
oleh restu orang tua. Dengan gaji sang pria saat ini, orang tua sang gadis
takut anak kesayangannya tak terpenuhi kebutuhannya. Ya tentu satu PR lagi
untuk banyak orang, punya kekasih ternyata juga harus punya modal menjanjikan (tidak semua kasus, tapi seringkali ditemui).
Bisa gila jika terus membayangkan,
lalu memaksa diri harus jadi seperti ini seperti itu. Harus punya gaji segini
punya kekasih seperti itu. Sampai di tahap mana, uang akan menguasai kebebasan
manusia hidup? Akankah kebahagiaan dan impian baru bisa di raih jika punya uang
dan telah jadi mapan? Jika memang iya, teriakkanlah “wahai uang, ukurlah aku seberapa mapan aku saat ini? wahai uang bawalah
aku pada asaku mari kita berfoya-foya dan nikmati indahnya dunia”. Yakinlah
itu hanya sebatas lelucon kehidupan dan anggaplah itu semacam tantangan.
Mulailah punya keyakinan dan prinsip bahwa uang tak akan mampu untuk kontrol
bahagiaku dan tak akan mampu menyentuh asaku. Uang kau adalah sebatas benda
pemanis yang akan temani diriku menuju asa terindahku. Ingat..!! kau hanya
sebatas TEMAN bagiku dan tidak lebih. Jadi ku mohon jangan bertingkah
berlebihan dan bersikaplah layaknya teman yang bijak.
Comments
Post a Comment